Para
sandera,
sebagaimana
dilaporkan
oleh
Hamas
dan
dikonfirmasi
oleh
otoritas
Israel,
termasuk
warga
negara
Israel-Amerika
Sagui
Dekel
Chen,
36
tahun,
warga
Kibbutz
Nir
Oz
di
Israel
selatan.
Chen
dilaporkan
ditawan
saat
ia
berhadapan
dengan
militan
Hamas
pada
serangan
teror
7
Oktober
2023
di
Israel
selatan.
Dua
bulan
setelah
penangkapannya,
istrinya,
Avital,
melahirkan
putri
ketiga
mereka.

Sasha
Troufanov,
29
tahun,
juga
dari
Kibbutz
Nir
Oz,
akan
dibebaskan.
Ia
disandera
pada
Oktober
2023,
bersama
ibunya
Elena,
neneknya
Irina
Tati,
dan
pacarnya
Sapir
Cohen,
yang
semuanya
dibebaskan
dalam
kesepakatan
pembebasan
sandera
sebulan
kemudian.
Ayahnya,
Vitaly,
tewas
dalam
serangan
Hamas.
Keluarga
tersebut
beremigrasi
ke
Israel
dari
Rusia
25
tahun
lalu.

Sandera
ketiga
diidentifikasi
sebagai
warga
negara
Israel
Argentina,
Iair
Horn,
46
tahun,
juga
dari
Kibbutz
Nir
Oz.
Ia
diculik
pada
7
Oktober
bersama
saudaranya
Eitan,
yang
tidak
termasuk
dalam
pembebasan
sandera
kali
ini.


Pembebasan
sempat
diragukan

Pembebasan
sandera
sempat
diragukan
setelah
Hamas
menuduh
Israel
melanggar
perjanjian
gencatan
senjata
dan
mengancam
akan
kembali
berperang.

“Kami
tidak
tertarik
dengan
runtuhnya
perjanjian
gencatan
senjata
di
Jalur
Gaza,
dan
kami
ingin
agar
perjanjian
tersebut
dilaksanakan
dan
memastikan
bahwa
pendudukan
[Israel]
mematuhinya
sepenuhnya,”
kata
juru
bicara
Hamas
Abdel-Latif
al-Qanoua.

Qanoua
juga
mengkritik
apa
yang
disebutnya
sebagai “bahasa
ancaman
dan
intimidasi”
dari
Perdana
Menteri
Israel
Benjamin
Netanyahu
dan
Presiden
Amerika
Serikat
Donald
Trump,
dengan
mengatakan
bahwa
hal
tersebut
tidak
membantu
pelaksanaan
gencatan
senjata.

Demonstran di Tel Aviv, Israel, 13 Februari 2025, menuntut pembebasan sandera yang diculik selama serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Demonstran
di
Tel
Aviv,
Israel,
13
Februari
2025,
menuntut
pembebasan
sandera
yang
diculik
selama
serangan
Hamas
pada
7
Oktober
2023.

Pemerintah
Israel
kemudian
menegaskan
kembali
bahwa
Hamas
harus
membebaskan
tiga
sandera
akhir
pekan
ini.

“Jika
ketiga
orang
itu
tidak
dibebaskan,
jika
Hamas
tidak
mengembalikan
sandera
kami
pada
Sabtu
siang,
gencatan
senjata
akan
berakhir,”
kata
juru
bicara
pemerintah
Israel
David
Mencer.

Hamas
awal
minggu
ini
menuduh
Israel
melanggar
kesepakatan
dengan
melanjutkan
serangan
udara
terhadap
orang-orang
di
Gaza
dan
memblokir
bantuan.
Kelompok
itu
mengatakan
akan
menunda
pembebasan
sandera.

Netanyahu
mengatakan
pertempuran
akan
berlanjut
jika
lebih
banyak
tawanan
tidak
dibebaskan
pada
Sabtu,
sementara
Trump
mengatakan
pada
Senin
bahwa “semua
akan
kacau”
jika
sandera
tidak
dikembalikan.


Rencana
Trump
untuk
Gaza

Pada
hari
Rabu,
setelah
Israel
memanggil
pasukan
cadangan
militer,
Menteri
Pertahanan
Israel,
Israel
Katz,
mengulangi
peringatan
Trump.

“Jika
Hamas
menghentikan
pembebasan
sandera,
maka
tidak
ada
gencatan
senjata,
dan
yang
terjadi
adalah
perang,”
katanya.
Ia
menambahkan
bahwa
pertempuran
akan
semakin
sengit
dan
akan “memungkinkan
terwujudnya
visi
Trump
untuk
Gaza.”

Trump
telah
membahas
rencana
di
mana
Amerika
Serikat
akan
mengambil
alih
Gaza
dan
warga
Palestina
di
sana
akan
dipindahkan
ke
negara
lain
tanpa
hak
untuk
kembali.
Negara-negara
lain
di
kawasan
tersebut,
termasuk
Mesir,
Yordania,
dan
Arab
Saudi,
telah
menolak
gagasan
tersebut.

Menteri
Luar
Negeri
Amerika
Serikat
Marco
Rubio
mengatakan
pada
hari
Kamis
(13/2)
bahwa
Amerika
Serikat
ingin
mendengar
usulan
baru
dari
negara-negara
Arab
mengenai
Gaza
setelah
rencana
Trump
mendapat
reaksi
keras. “Jika
mereka
punya
rencana
yang
lebih
baik,
sekaranglah
saatnya
untuk
menyampaikannya,”
kata
Rubio
dalam
sebuah
acara
radio
konservatif.

Sejak
gencatan
senjata
mulai
berlaku
bulan
lalu,
Hamas,
yang
oleh
Amerika
Serikat,
Inggris,
dan
negara-negara
Barat
lainnya
ditetapkan
sebagai
organisasi
teroris,
telah
membebaskan
21
sandera.
Israel
telah
membebaskan
lebih
dari
730
tahanan.

Perang
di
Gaza
dipicu
oleh
serangan
teror
Hamas
pada
Oktober
2023
terhadap
Israel
yang
menewaskan
1.200
orang
dan
menyebabkan
penangkapan
250
sandera.
Serangan
balasan
Israel
menewaskan
lebih
dari
48.200
warga
Palestina,
lebih
dari
setengahnya
adalah
perempuan
dan
anak-anak,
menurut
otoritas
kesehatan
setempat,
yang
tidak
membedakan
antara
kombatan
dan
warga
sipil
dalam
penghitungannya.
Israel
mengatakan
jumlah
korban
tewas
termasuk
17.000
militan
yang
telah
dibunuhnya.

Israel
dan
Hamas
dituduh
melakukan
kejahatan
perang.

Amerika
Serikat
pada
hari
Kamis
memberikan
sanksi
kepada
kepala
jaksa
di
Pengadilan
Kriminal
Internasional
atas
penyelidikan
ICC
yang
menarget
pejabat
Amerika
Serikat
dan
dugaan
kejahatan
perang
Israel
di
Gaza.

[es/dw]


Reporter
VOA
Natasha
Mozgovaya
berkontribusi
untuk
laporan
ini.
Beberapa
informasi
untuk
laporan
ini
berasal
dari
The
Associated
Press,
Agence
France-Presse
dan
Reuters.

Source