Presiden
Amerika
Donald
Trump
dan
Perdana
Menteri
Jepang
Shigeru
Ishiba
pada
pertemuan
di
Gedung
Putih
pada
Jumat
(7/2)
menyatakan
bahwa
hubungan
antara
Washington
dan
Tokyo
memasuki “zaman
keemasan
baru.”

Banyak
orang
di
Jepang
khawatir
apakah
Ishiba
bisa
membangun
hubungan
baik
dengan
Trump
yang
tak
terduga,
terutama
pada
pertemuan
pertama
mereka
yang
penuh
risiko.
Kekhawatiran
itu
semakin
besar
mengingat
kebijakan
luar
negeri
awal
Trump
yang
mengejutkan
banyak
sekutu
dan
musuh.

Namun,
kedua
pemimpin
saling
memuji
satu
sama
lain.
Trump
membuka
konferensi
pers
dengan
memberikan
foto
mereka
berdua
yang
diambil
di
Ruang
Oval
kepada
Ishiba.

“Saya
berharap
saya
setampan
dia,
tetapi
ternyata
tidak,”
gurau
Trump.
Ia
menegaskan
bahwa
Amerika
Serikat “berkomitmen
penuh”
untuk
memastikan
keamanan
Jepang
dan
berjanji
akan
memperkuat
hubungan
ekonomi
kedua
negara.

Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba berpose bersama Presiden AS Donald Trump saat konferensi pers bersama di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, AS, pada 7 Februari 2025. (Foto: Kent Nishimura/Reuters)

Perdana
Menteri
Jepang
Shigeru
Ishiba
berpose
bersama
Presiden
AS
Donald
Trump
saat
konferensi
pers
bersama
di
Ruang
Timur
Gedung
Putih
di
Washington,
AS,
pada
7
Februari
2025.
(Foto:
Kent
Nishimura/Reuters)

Menjelang
pertemuan
mereka
di
Ruang
Oval,
Ishiba
memuji
Trump,
mengatakan
bahwa
ia
terinspirasi
oleh
semangat
tak
kenal
takut
Trump,
yang
meskipun
pernah
menjadi
sasaran
percobaan
pembunuhan,
tetap
bertekad
memenangkan
pemilihan
dan
mewujudkan
misinya
untuk “Membuat
Amerika
Hebat
Lagi.”

“Selain
itu,
Anda
juga
akan
meningkatkan
upaya
untuk
membawa
perdamaian
ke
dunia,”
kata
Ishiba. “Dan
itulah
alasan
mengapa
Tuhan
menyelamatkan
Anda
dalam
tragedi
itu.”

Kunjungan
Ishiba
terjadi
di
tengah
kekhawatiran
Tokyo
mengenai
pernyataan
Trump
kepada
beberapa
sekutu
dan
mitra
Amerika,
di
mana
ia
menyatakan
keinginannya
untuk
menjadikan
Kanada
sebagai
negara
bagian
Amerika,
memperoleh
Greenland
dari
Denmark,
dan
menguasai
Terusan
Panama.

“Kami
ingin
terlebih
dahulu
membangun
hubungan
kepercayaan
dan
kerja
sama
yang
lebih
tinggi
antara
kedua
negara,
terutama
kedua
pemimpin,”
kata
seorang
pejabat
senior
pemerintah
Jepang
kepada
wartawan
selama
pengarahan
pada
Kamis.

Trump
memberlakukan
tarif
baru
sebesar
10
persen
terhadap
China,
serta
tarif
25
persen
terhadap
Kanada
dan
Meksiko.
Namun
tarif
untuk
Ottawa
dan
Meksiko
City
ditangguhkan
selama
dua
bulan
mendatang.
Trump
juga
memperingatkan
kemungkinan
penerapan
tarif
terhadap
negara
lain,
terutama
yang
mengalami
defisit
perdagangan
dengan
Amerika,
seperti
Jepang.

Pada
Jumat,
Trump
mengatakan
akan
memberlakukan
tarif
timbal
balik
terhadap
mitra
dagang.

“Suatu
negara
membayar
begitu
banyak,
menagih
kita
begitu
banyak,
dan
kita
melakukan
hal
yang
sama,
sangat
saling
menguntungkan,”
katanya.

Ishiba
enggan
mengungkapkan
apakah
ia
akan
memberikan
tanggapan
terkait
hal
itu.

Ketegangan
lainnya
dalam
hubungan
Amerika-Jepang
muncul
dari
keputusan
mantan
Presiden
Joe
Biden
yang
memblokir
tawaran
senilai
$15
miliar
dari
produsen
baja
terbesar
Jepang,
Nippon
Steel,
untuk
mengakuisisi
U.S.
Steel
yang
berbasis
di
Pittsburgh.

Presiden Donald Trump, tengah, menyapa Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba, kanan, di Gedung Putih, Jumat, 7 Februari 2025, di Washington. (Foto: AP/Evan Vucci)

Presiden
Donald
Trump,
tengah,
menyapa
Perdana
Menteri
Jepang
Shigeru
Ishiba,
kanan,
di
Gedung
Putih,
Jumat,
7
Februari
2025,
di
Washington.
(Foto:
AP/Evan
Vucci)

Biden
memblokir
kesepakatan
tersebut
menjelang
akhir
masa
jabatannya
dengan
alasan
terkait
masalah
keamanan
nasional.
Trump
mengaku
juga
menentang
kesepakatan
tersebut,
tetapi
kini
tampaknya
lebih
terbuka
untuk
melakukan
negosiasi.

“Mereka
akan
melihatnya
sebagai
investasi,
bukan
pembelian,”
kata
Trump. “Kami
tidak
menyukai
ide
itu.
U.S.
Steel
adalah
perusahaan
yang
sangat
penting
bagi
kami.”

Jepang
setuju
untuk
meningkatkan
investasinya
di
sektor-sektor
utama
Amerika,
serta
membeli
lebih
banyak
gas
alam
cair
(LNG)
dari
Amerika

sebuah
agenda
yang
sangat
penting
bagi
Trump.


Bidang
Keamanan

Dalam
pernyataan
bersama,
kedua
pemimpin
menegaskan
kembali
komitmen
mereka
terhadap
Indo-Pasifik
yang
bebas
dan
terbuka,
melalui “kerja
sama
yang
berlapis-lapis
dengan
negara-negara
yang
memiliki
pandangan
serupa.”

Di
bawah
kepemimpinan
Perdana
Menteri
Fumio
Kishida,
Jepang
menjadi
pemain
utama
dalam
apa
yang
disebut
pemerintahan
Biden
sebagai “arsitektur
strategis
seperti
kisi,”
untuk
memperkuat
pencegahan
terhadap
dua
musuh
utama
Amerika
di
Pasifik:
China
dan
Korea
Utara.

Pendekatan
Biden
menghubungkan
Tokyo
dengan
sekutu-sekutu
lainnya
dalam
format
trilateral
dan
pengelompokan
lainnya,
termasuk
Korea
Selatan,
Australia,
dan
Filipina,
untuk
mengatasi
ancaman
regional
di
Selat
Taiwan,
Laut
China
Selatan,
dan
Semenanjung
Korea.

Pemerintahan
Trump
akan
tetap
mendukung
upaya
trilateral
dan
beberapa
kelompok
kerja
yang
telah
terbentuk
dari
inisiatif
tersebut
dalam
beberapa
tahun
terakhir,
ujar
seorang
pejabat
Trump
dalam
pengarahan
kepada
wartawan
pada
Jumat
pagi.

“Meski
mungkin
ada
beberapa
penyesuaian
dalam
fokus
kerja
sama
trilateral,
saya
rasa
sebagian
besar
akan
tetap
berlanjut
seperti
sebelumnya,”
ujar
pejabat
tersebut.

Selama
masa
jabatan
pertama
Trump,
ia
dan
Perdana
Menteri
Shinzo
Abe
sepakat
membentuk
kerangka “Indo-Pasifik
yang
bebas
dan
terbuka”
untuk
mendorong
perdamaian
dan
kemakmuran
di
kawasan.
Kedua
negara
juga
setuju
untuk
memperkuat
kelompok
Quad
bersama
India
dan
Australia.

[ah/ft]

Source