Pada
hari
pertamanya
sebagai
Menteri
Luar
Negeri
AS,
mantan
Senator
Republik
Marco
Rubio
memberi
tahu
para
pejabat
dinas
luar
negeri
AS
bahwa
departemen
mereka
akan
mendorong
perdamaian
di
seluruh
dunia.

“Tanpa
perdamaian,
sulit
menjadi
negara
yang
kuat,
negara
yang
makmur,
dan
negara
yang
lebih
baik,”
kata
Rubio.

Namun,
menghindari
konflik
akan
menjadi
keputusan
yang
strategis.

“Tidak
akan
pernah
mengorbankan
keamanan
nasional
kita,
tidak
akan
pernah
mengorbankan
kepentingan
nasional
kita,
dan
tidak
akan
pernah
mengorbankan
nilai-nilai
inti
kita
sebagai
sebuah
bangsa
dan
sebagai
sebuah
masyarakat,”
tegasnya.

Rubio
juga
bertemu
dengan
para
menteri
luar
negeri
dari
tiga
negara
sahabat.
Hadir
dalam
pertemuan
tersebut
adalah
Menteri
Luar
Negeri
AS
Marco
Rubio,
Menteri
Luar
Negeri
India
Subrahmanyam
Jaishankar,
Menteri
Luar
Negeri
Jepang
Takeshi
Iwaya,
dan
Menteri
Luar
Negeri
Australia
Penny
Wong.

Keempat
negara
tersebut
membentuk
Dialog
Keamanan
Segiempat,
atau
“Quad”

sebuah
blok
yang
bertujuan
untuk
melawan
ambisi
ekonomi
dan
militer
China
di
kawasan
Indo-Pasifik.

Dari kiri: Menlu Jepang Takeshi Iwaya, Menlu India Subrahmanyam Jaishankar, Menlu AS Marco Rubio, dan Menlu Australia Penny Wong berpose bersama sebelum pertemuan di kantor Deplu AS di Washington, DC hari Selasa (21/1).

Dari
kiri:
Menlu
Jepang
Takeshi
Iwaya,
Menlu
India
Subrahmanyam
Jaishankar,
Menlu
AS
Marco
Rubio,
dan
Menlu
Australia
Penny
Wong
berpose
bersama
sebelum
pertemuan
di
kantor
Deplu
AS
di
Washington,
DC
hari
Selasa
(21/1).

Amerika
Serikat,
India,
Jepang,
dan
Australia
mewakili
hampir
2
miliar
orang
dan
lebih
dari
sepertiga
PDB
global.

Quad
telah
ada
selama
lebih
dari
15
tahun
tetapi
baru-baru
ini
semakin
penting.
Para
anggotanya
menekankan
sifat
diplomatiknya
dan
fokus
luas
pada
isu-isu
regional.
Meskipun
keamanan
hanya
sebagian
dari
tujuannya,
Quad
merupakan
komponen
utama
dari
strategi
Amerika
untuk
melawan
China
yang
semakin
berani
dengan
klaim
teritorialnya
yang
luas
di
kawasan
tersebut,
termasuk
hampir
seluruh
wilayah
Laut
China
Selatan
yang
penting
secara
strategis
dan
pulau
Taiwan
yang
berpemerintahan
sendiri
secara
demokratis.

Pertemuan
hari
Selasa
itu
meredakan
beberapa
kekhawatiran
tentang
pendekatan
America
First
di
bawah
Presiden
Donald
Trump,
seperti
disampaikan
oleh
Yun
Sun,
direktur
program
China
di
Stimson
Center,
yang
berbicara
dengan
VOA
melalui
Zoom.

“Merupakan
sinyal
yang
jelas
bahwa
AS
tidak
meninggalkan
sekutu
dan
mitra
koalisi
regional
dalam
hal
cara
melawan
kebangkitan
China,”
ujar
Yun
Sun.

Beijing
mengecam
Quad
sebagai
konstruksi
Perang
Dingin.

Kembali
Yun
Sun
dari
Stimson
Center
mengatakan,
“Setiap
kali
AS
bersekutu
dengan
mitra-mitranya,
China
akan
merasa
terisolasi
dan
merasa
terancam,
dan
mereka
akan
menuduh
Amerika
Serikat
memiliki
mentalitas
Perang
Dingin.”

Analis
itu
mengatakan
bahwa
modernisasi
dan
perluasan
persenjataan
militer
dan
nuklir
China
hanya
akan
terus
mendorong
negara-negara
di
kawasan
Indo-Pasifik
untuk
memperkuat
militer
mereka
sendiri
dan
berusaha
untuk
menjalin
hubungan
yang
lebih
erat
dengan
Amerika
Serikat.

[lt/jm]

Source