Kepolisian
Karachi
pada
Selasa
(31/12)
menggunakan
gas
air
mata
dan
pentungan
untuk
membubarkan
aksi
duduk
para
aktivis
dari
sebuah
partai
politik
Syiah,
yang
memprotes
bentrokan
sektarian
di
Pakistan
utara
yang
telah
merenggut
ratusan
korban
jiwa.

Kurram,
distrik
kesukuan
yang
berpenduduk
sekitar
600
ribu
jiwa
di
dekat
perbatasan
dengan
Afghanistan,
telah
menjadi
pusat
ketegangan
sektarian
selama
beberapa
dekade.
Di
wilayah
ini,
otoritas
federal
dan
provinsi
biasanya
menerapkan
kendali
secara
terbatas.

Bentrokan
baru
antara
Muslim
Sunni
dan
Muslim
Syiah
meletus
bulan
lalu,
memicu
krisis
kemanusiaan.
Banyak
laporan
muncul
terkait
kelaparan,
kekurangan
obat-obatan,
dan
kekurangan
oksigen
setelah
pemblokiran
jalan
raya
utama
yang
menghubungkan
kota
utama
Kurram,
Parachinar,
dengan
ibu
kota
provinsi
Peshawar.

Media
lokal
melaporkan
lebih
dari
100
anak
telah
meninggal
karena
kekurangan
obat-obatan
di
kota
tersebut.

Pemerintah
provinsi
dan
Yayasan
Edhi
telah
mulai
mengirim
obat-obatan
ke
wilayah
tersebut
melalui
helikopter.
Aksi
duduk
di
beberapa
jalan
utama
di
Karachi
menuntut
pemulihan
perdamaian
di
Kurram,
yang
dilakukan
oleh
Majlis
Wahdat-e-Muslimeen
(MWM)
terus
mengganggu
lalu
lintas
sejak
dimulai
pekan
lalu.

Di
pusat
penyelenggaran
aksi
duduk,
para
pengunjuk
rasa
melemparkan
batu
ke
polisi
yang
membongkar
tenda-tenda
dan
membersihkan
jalan.
Polisi
juga
menahan
beberapa
pengunjuk
rasa.
Media
lokal
melaporkan,
setidaknya
tiga
sepeda
motor
dibakar
selama
bentrokan.
Tidak
ada
laporan
mengenai
korban.

Pemerintah
provinsi
di
Pakistan
barat
laut
mengatakan
pada
Jumat
(20/12)
bahwa
mereka
berencana
untuk
menyita
senjata
untuk
menghentikan
bentrokan
sektarian
yang
telah
menewaskan
ratusan
orang.
Namun,
suku-suku
di
wilayah
yang
secara
historis
tidak
memiliki
hukum
tersebut
mengatakan,
bahwa
mereka
tidak
akan
menyerahkan
senjata
mereka.
[ns/ab]

Source