Militer
Filipina
pada
Senin
(23/12)
mengungkapkan
rencananya
untuk
mengakuisisi
sistem
rudal
Typhon
milik
Amerika
Serikat
sebagai
upaya
melindungi
kepentingan
maritimnya,
yang
sebagian
tumpang
tindih
dengan
kekuatan
regional
China.

Angkatan
Darat
Amerika
Serikat
mengerahkan
sistem
rudal
jarak
menengah
di
Filipina
utaradalam
latihan
militer
gabungan
pada
awal
tahun
ini.
Beijing
menyebut
sistem
tersebut
mengganggu
stabilitas
Asia.
Namun,
Washington
bergeming
dan
memutuskan
untuk
terus
menggunakannya
di
Filipina.

Sejak
saat
itu,
pasukan
Filipina
menggunakan
sistem
tersebut
dalam
latihan
militer.

“Sistem
tersebut
rencananya
akan
diakuisisi
karena
kami
melihat
kelayakan
dan
fungsinya
dalam
konsep
implementasi
pertahanan
kepulauan
kita,”
kata
Kepala
Angkatan
Darat
Filipina
Letnan
Jenderal
Roy
Galido
dalam
konferensi
pers.

Sistem rudal Typhon di Bandara Internasional Laoag, di Laoag, Filipina, 13 September 2024. (Foto: Planet Labs Inc via REUTERS)

Sistem
rudal
Typhon
di
Bandara
Internasional
Laoag,
di
Laoag,
Filipina,
13
September
2024.
(Foto:
Planet
Labs
Inc
via
REUTERS)

“Saya
senang
melaporkan
kepada
rekan
senegara
kita
bahwa
tentara
Anda
sedang
mengembangkan
kemampuan
ini
untuk
melindungi
kedaulatan
kita,”
katanya,
sambil
menambahkan
bahwa
jumlah
total
yang
akan
diakuisisi
akan
bergantung
pada
situasi “ekonomi”.

Beijing
marah
atas
hadirnya
peluncur
rudal
Amerika
Serikat
di
Filipina
utara.
Dalam
beberapa
bulan
terakhir,
angkatan
laut
dan
pasukan
penjaga
pantai
China
terlibat
dalam
eskalasi
konfrontasi
dengan
Filipina
terkait
sengketa
terumbu
karang
dan
perairan
di
Laut
China
Selatan.

Beijing
mengeklaim
hampir
seluruh
Laut
China
Selatan,
meskipun
Mahkamah
Arbitrase
menyatakan
klaim
tersebut
tidak
mempunyai
dasar
hukum.

Berdasarkan
regulasi,
militer
Filipina
membutuhkan
setidaknya
dua
tahun
untuk
bisa
mengadopsi
sistem
persenjataan
baru
mulai
dari
tahap
perencanaan,
kata
Galido.
Ia
mengatakan
pihaknya
belum
mengalokasikan
apapun
pada
anggaran
tahun
fiskal
2025.

Ia
menegaaskan
Manila
membutuhkan
lima
tahun
untuk
menerima
rudal
jelajah
BrahMos
pada
tahun
lalu.

Peluncur
rudal
Typhon “berkemampuan
jarak
menengah”
berbasis
darat
memiliki
jangkauan
480
kilometer,
meskipun
versi
dengan
jangkauan
lebih
jauh
sedang
dalam
pengembangan.
Sistem
itu
dikembangkan
oleh
perusahaan
Amerika
Lockheed
Martin
untuk
Angkatan
Darat
Amerika.

Galido
mengatakan
sistem
Typhon
akan
memungkinkan
angkatan
darat
Filipina
untuk “memproyeksikan
kekuatan”
hingga
sejauh
370
kilometer,
yang
merupakan
batas
hak
maritim
Filipina
berdasarkan
Konvensi
Hukum
Laut
PBB.

“Kita
perlu
berkontribusi
untuk
ini
[pertahanan
kepentingan
Filipina]
dengan
memiliki
platform
ini
untuk
dapat
membantu
layanan
utama
utama
yang
akan
berfokus
pada
wilayah
maritim
dan
udara,”
Galido
menambahkan.

Dalam
skenario
tersebut,
platform
Typhon “akan
melindungi
aset
terapung
kita,”
katanya,
merujuk
pada
kapal-kapal
Angkatan
Laut
Filipina,
penjaga
pantai,
dan
kapal-kapal
lainnya.

Menteri
Pertahanan
China,
Dong
Jun,
memperingatkan
pada
Juni
bahwa
pengerahan
Typhon “sangat
merusak
keamanan
dan
stabilitas
regional.”

Namun,
Galido
menepis
kritik
terhadap
sistem
Typhon
di
Filipina.

“Kita
tidak
perlu
terganggu
oleh
rasa
tidak
aman
yang
dirasakan
orang
lain
karena
kita
tidak
punya
rencana
untuk
melangkah
di
luar
kepentingan
negara
kita,”
katanya.

Kedutaan
Besar
China
di
Manila
tidak
memberikan
tanggapan
atas
permintaan

AFP

untuk
berkomentar.

[ah/rs]

Source