Serangan
Israel
di
Jalur
Gaza
pada
Sabtu
(21/12)
malam
hingga
Minggu
(22/12)
menewaskan
sedikitnya
20
orang,
termasuk
lima
anak-anak,
kata
para
pejabat
kesehatan
Palestina.
Sementara
itu,
otoritas
Israel
mengizinkan
Kardinal
Pierbattista
Pizzaballa,
pemimpin
Gereja
Katolik
di
Tanah
Suci,
untuk
memasuki
Gaza
dan
menyelenggarakan
misa
pra-Natal
bersama
dengan
anggota
komunitas
Kristen
yang
sedikit
di
wilayah
tersebut.
Serangan
terhadap
sebuah
sekolah
yang
menampung
orang-orang
telantar
di
Kota
Gaza
menewaskan
sedikitnya
delapan
orang,
termasuk
tiga
anak-anak,
kata
Kementerian
Kesehatan
Gaza.
Pertahanan
Sipil,
petugas
pertolongan
pertama
yang
berafiliasi
dengan
pemerintahan
pimpinan
Hamas,
sebelumnya
mengatakan
empat
anak-anak
termasuk
di
antara
korban
tewas.
Militer
Israel
mengatakan
telah
melancarkan
serangan
jitu
terhadap
militan
Hamas
yang
berlindung
di
sana.
Serangan
terhadap
sebuah
rumah
kota
Deir
al-Balah,
kota
di
bagian
tengah,
pada
Sabtu
larut
malam
menewaskan
sedikitnya
delapan
orang,
termasuk
tiga
perempuan
dan
dua
anak-anak,
menurut
Rumah
Sakit
Al-Aqsa
Martyrs,
yang
menerima
mayat
korban.
Seorang
lelaki
dan
istrinya
tewas
dalam
serangan
di
kota
bagian
selatan
Khan
Younis
pada
hari
Minggu,
tepat
setelah
tengah
malam,
menurut
Rumah
Sakit
Nasser
di
dekatnya.
Sementara
itu
serangan
terhadap
sebuah
mobil
di
Kota
Gaza
menewaskan
dua
orang,
menurut
Kementerian
Kesehatan.
Tidak
ada
komentar
langsung
dari
militer
mengenai
serangan-serangan
itu.
Israel
telah
melancarkan
serangan-serangan
setiap
hari
di
Gaza
selama
lebih
dari
14
bulan
perangnya
dengan
Hamas.
Israel
mengatakan
mereka
hanya
menargetkan
militan,
menuduh
mereka
bersembunyi
di
antara
warga
sipil.
Akan
tetapi
serangan
bom
kerap
kali
menewaskan
perempuan
dan
anak-anak.
Israel
dan
Hamas
baru-baru
ini
tampaknya
semakin
dekat
ke
kesepakatan
gencatan
senjata
yang
akan
mencakup
pembebasan
orang-orang
Israel
yang
disandera
dan
orang-orang
Palestina
yang
dipenjarakan,
tetapi
sejumlah
kendala
tetap
ada.
Pembicaraan
tidak
langsung
yang
telah
berlangsung
lama
berulang
kali
macet.
Misa
Bersama
Umat
Kristen
Gaza
Puluhan
orang
berkumpul
di
Gereja
Keluarga
Kudus
di
Kota
Gaza
sewaktu
Pizzaballa
dan
rohaniwan
lainnya
merayakan
Misa.
Sebuah
pohon
Natal
dihiasi
ornamen
keemasan
dan
lampu
sinar
putih
yang
berkelap-kelip,
dan
putra
altar
mengenakan
jubah
merah
dan
putih
sambil
memegang
lilin.
“Untuk
Natal,
kita
merayakan
terang
dan
kita
bertanya-tanya
di
manakah
terang
itu.
Ini
adalah
salah
satu
tempat
di
mana
terang
berada,”
kata
Pizzaballa.
Deru
drone
Israel
yang
berputar-putar
di
atas,
suara
yang
semakin
sering
terdengar
di
Gaza
selama
perang,
dapat
terdengar
sepanjang
Misa.
Lawatan
yang
jarang
dilakukan
ke
Gaza
oleh
patriark
Latin
itu
berlangsung
satu
hari
setelah
Paus
Fransiskus
kembali
mengkritik
tindakan
Israel
di
Gaza.
Paus
Fransiskus
Sabtu
mengatakan
bahwa
utusannya
tidak
dapat
memasuki
wilayah
itu
karena
pengeboman
Israel.
“Anak-anak
telah
dibom
kemarin.
Ini
kekejaman,
ini
bukan
perang,”
kata
Paus
Fransiskus
dalam
ucapan
Natal
tahunannya
di
Vatikan.
Paus
baru-baru
ini
menyerukan
investigasi
untuk
menentukan
apakah
tindakan
Israel
di
Gaza
merupakan
genosida,
suatu
kesimpulan
yang
kemudian
dicapai
oleh
Amnesty
International
dan
Human
Rights
Watch.
Mahkamah
Internasional
(ICJ)
sedang
menyelidiki
tuduhan
genosida
yang
diajukan
terhadap
Israel
oleh
Afrika
Selatan.
Israel,
yang
didirikan
sebagai
tempat
berlindung
orang-orang
Yahudi
setelah
Holokos
Nazi,
dengan
tegas
menolak
tuduhan
tersebut.
Israel
mengatakan
telah
melakukan
upaya
besar
untuk
menghindari
korban
sipil
dan
hanya
berperang
melawan
Hamas,
yang
dituduhnya
melakukan
kekerasan
genosida
dalam
serangan
yang
memicu
perang
ini.
Perang
Berlanjut
Saat
Musim
Dingin
Tiba
Militan
pimpinan
Hamas
menyerbu
Israel
selatan
dalam
serangan
mendadak
pada
7
Oktober
2023,
menewaskan
sekitar
1.200
orang
yang
kebanyakan
warga
sipil,
dan
menculik
sekitar
250
lainnya.
Sekitar
100
sandera
masih
berada
di
Gaza,
setidaknya
sepertiga
dari
mereka
diyakini
telah
tewas.
Serangan
dan
invasi
darat
yang
kemudian
dilakukan
Israel
telah
menewaskan
lebih
dari
45
ribu
orang
di
Gaza,
lebih
dari
setengahnya
adalah
perempuan
dan
anak-anak,
menurut
Kementerian
Kesehatan
Gaza,
yang
tidak
membedakan
anggota
militan
dan
warga
sipil
dalam
penghitungannya.
Ofensif
itu
telah
menyebabkan
kehancuran
yang
luas
dan
menyebabkan
sekitar
90%
dari
2,3
juta
penduduk
Gaza
mengungsi,
kerap
berkali-kali.
Ratusan
ribu
orang
memadati
perkampungan
tenda
yang
kumuh
di
kawasan
pesisir
tersebut
sementara
musim
dingin
yang
basah
tiba.
Israel
telah
melancarkan
operasi
besar
di
Gaza
utara
sejak
Oktober,
memerangi
Hamas
di
wilayah
yang
paling
terisolasi
dan
rusak
berat
di
kawasan
itu.
Puluhan
ribu
orang
telah
melarikan
diri
karena
militer
telah
memerintahkan
evakuasi
total
dan
hampir
tidak
ada
bantuan
kemanusiaan
yang
diizinkan
masuk.
Badan
militer
Israel
yang
mengawasi
urusan
sipil
di
Gaza,
yang
dikenal
sebagai
COGAT,
mengatakan
telah
memfasilitasi
evakuasi
lebih
dari
100
pasien,
pendamping
mereka
dan
yang
lain-lainnya
ke
Rumah
Sakit
Kamal
Adwan
dan
Al-Awada
di
ujung
utara,
yang
mengalami
kesulitan
untuk
beroperasi.
COGAT
mengatakan
pihaknya
juga
telah
memfasilitasi
pengiriman
5.000
liter
bahan
bakar
dan
paket-paket
makanan
ke
rumah
sakit
tersebut.
[uh/ab]

