Kantor
PM
Israel
Benjamin
Netanyahu
hari
Kamis
(12/12)
mengatakan
bahwa
pasukan
Israel
akan
tetap
berada
di
sebuah
zona
penyangga
Suriah
yang
berdekatan
dengan
Dataran
Tinggi
Golan
sampai
pasukan
Suriah
dapat
menjamin
keamanan
di
sana.

Pasukan
Israel
bergerak
maju
dari
wilayah
mereka
di
Dataran
Tinggi
Golan
memasuki
zona
penyangga
dan
wilayah
Suriah
setelah
pemberontak
menggulingkan
Presiden
Suriah
Bashar
al-Assad.

“Israel
tidak
mengizinkan
kelompok-kelompok
jihad
untuk
mengisi
kekosongan
itu
dan
mengancam
komunitas
Israel
di
Dataran
Tinggi
Golan
dengan
serangan
seperti
pada
7
Oktober,”
kata
kantor
Netanyahu.

Langkah
Israel
itu
telah
dikritik
oleh
PBB
sebagai
pelanggaran
terhadap
perjanjian
1974
yang
menetapkan
jalur
yang
memisahkan
pasukan
Israel
dan
Suriah
dengan
zona
penyangga
yang
dipantau
PBB
di
antara
keduanya.

Prancis,
Iran,
Rusia,
Turki
dan
Arab
Saudi
juga
mengkritik
langkah
Israel,
dan
AS
telah
menyatakan
penting
bahwa
pengerahan
pasukan
ke
sana
bersifat
sementara.

Komandan
utama
pejuang
Suriah
yang
menyingkirkan
Assad
mengatakan
hari
Rabu
bahwa
siapa
pun
yang
terlibat
dalam
penganiayaan
dan
pembunuhan
orang-orang
yang
ditahan
Assad
semasa
pemerintahan
tangan
besinya
akan
diburu,
dan
tidak
akan
ada
ampunan
bagi
mereka.

“Kami
akan
mengejar
mereka
di
Suriah,
dan
kami
akan
meminta
negara-negara
agar
menyerahkan
mereka
yang
melarikan
diri
agar
kami
dapat
mencapai
keadilan,”
kata
Abu
Mohammed
al-Golani
dalam
sebuah
pernyataan
yang
diterbitkan
di
kanal
Telegram
televisi
pemerintah
Suriah.

Sumpah
Golani
untuk
membalas
dendam
terhadap
para
pembantu
Assad
atas
penganiayaan
dan
pembunuhan
itu
dilontarkan
sementara
dunia
mengawasi
untuk
melihat
apakah
penguasa
baru
Suriah
dapat
menstabilkan
negara
itu
setelah
perang
saudara
antargolongan
dan
etnis
selama
hampir
14
tahun
telah
membuat
negara
itu
terjerumus
dalam
kekacauan.

Mohammed
al-Bashir,
yang
ditempatkan
para
pejuang
Jolani
untuk
memimpin
pemerintahan
sementara
hingga
1
Maret,
memohon
jutaan
pengungsi
agar
kembali,
menciptakan
persatuan
dan
memberikan
layanan
dasar.
Tetapi
pembangunan
kembali
negara
itu
merupakan
tugas
sangat
berat
dengan
sangat
sedikitnya
dana
yang
tersedia.

“Di
dalam
brankas,
hanya
ada
beberapa
pound
Suriah
yang
nilainya
kecil
atau
tidak
ada
sama
sekali.
Satu
dolar
AS
dapat
membeli
35
ribu
koin
kami,”
kata
Bashir
kepada
harian
Italia
Corriere
della
Sera.

“Kami
tidak
memiliki
valuta
asing,
dan
terkait
kredit
dan
surat-surat
berharga,
kami
masih
mengumpulkan
data.
Jadi
ya,
secara
finansial,
kondisi
kami
sangat
buruk,”
kata
Bashir,
yang
sebelumnya
memimpin
pemerintahan
kecil
yang
dipimpin
pemberontak
di
sebuah
wilayah
kantong
di
bagian
barat
laut
Suriah.

Tetapi
Bashir
mengatakan
aliansi
pimpinan
Islamis
yang
menggulingkan
Assad
akan
menjamin
hak
semua
kelompok
agama.
“Tepatnya
karena
kami
Islami,
kami
akan
menjamin
hak
semua
orang
dan
semua
kelompok
di
Suriah,”
kata
Bashir.

Lebih
dari
500
ribu
orang
tewas
dalam
perang
di
sana,
dengan
lebih
dari
separuh
populasinya
terpaksa
mengungsi.
Sekitar
6
juta
orang
Suriah
mengungsi
ke
luar
negeri.

Bashir
meminta
mereka
yang
mengungsi
untuk
menghindari
kekerasan
agar
kembali
pulang.
Dalam
wawancaranya
dengan
Corriere
della
Sera,
ia
mengatakan,
”Suriah
sekarang
adalah
negara
bebas
yang
telah
mendapatkan
kebanggaan
dan
martabatnya.
Kembalilah.”

Para
pejabat
asing
dengan
hati-hati
berdialog
dengan
bekas
kelompok
pemberontak,
bagian
dari
bekas
afiliasi
al-Qaida
Hayat
Tahrir
al-Sham,
yang
masih
ditetapkan
sebagai
organisasi
teroris
oleh
AS,
PBB,
Uni
Eropa
dan
lain-lainnya.

Menteri
Luar
Negeri
AS
Antony
Blinken
mengatakan
pemerintah
baru
harus
“menjunjung
komitmen
jelas
untuk
menghargai
sepenuhnya
hak-hak
kaum
minoritas,
memfasilitasi
arus
bantuan
kemanusiaan
kepada
semua
yang
membutuhkan,
mencegah
Suriah
digunakan
sebagai
pangkalan
terorisme
atau
menjadi
ancaman
bagi
tetangga-tetangganya.”

Sekjen
PBB
Antonio
Guterres
mengatakan,
“Tugas
kami
adalah
melakukan
semuanya
untuk
mendukung
para
pemimpin
Suriah
yang
berbeda-beda
untuk
memastikan
bahwa
mereka
bersatu,
mereka
dapat
menjamin
transisi
dengan
lancar.”

Tetapi
Kantor
Koordinasi
PBB
untuk
Urusan
Kemanusiaan
mengatakan
situasi
keamanan
di
Suriah
masih
tetap
goyah.
Badan
itu
mengatakan
telah
mendapati
lebih
dari
50
ladang
ranjang
selama
10
hari
terakhir,
yang
membatasi
pergerakan
warga
sipil
serta
menghambat
pengiriman
barang
dan
jasa.

[uh/ab]

Source