
Tingkat
polusi
udara
yang
belum
pernah
terjadi
sebelumnya
di
kota
terbesar
kedua
di
Pakistan,
Lahore,
mendorong
pihak
berwenang
untuk
mengambil
tindakan
darurat
pada
hari
Minggu
(3/11),
termasuk
mengeluarkan
perintah
bekerja
dari
rumah
dan
menutup
sekolah-sekolah
dasar.
Kota
itu
menduduki
posisi
teratas
dalam
daftar
terkini
kota
paling
tercemar
di
dunia
pada
hari
Minggu
setelah
mencatat
angka
polusi
tertinggi
sepanjang
masa
yakni
1900
di
dekat
perbatasan
Pakistan-India
pada
hari
Sabtu
(2/11),
berdasarkan
data
yang
dirilis
oleh
pemerintah
provinsi
dan
grup
Swiss
IQAir.
Pemerintah
telah
menutup
sekolah
dasar
selama
seminggu,
dan
menghimbau
orang
tua
untuk
memastikan
anak-anak
mengenakan
masker,
tutur
Menteri
Senior
Punjab
Marriyum
Aurangzeb
selama
konferensi
pers,
saat
kabut
asap
tebal
menyelimuti
kota
tersebut.
Warga
diimbau
untuk
tetap
berada
di
dalam
rumah,
menutup
pintu
dan
jendela,
serta
menghindari
perjalanan
yang
tidak
perlu,
katanya,
seraya
menambahkan
bahwa
rumah
sakit
telah
dilengkapi
dengan
alat
pengukur
asap.
Untuk
mengurangi
polusi
kendaraan,
50%
karyawan
kantor
akan
bekerja
dari
rumah,
kata
Aurangzeb.
Pemerintah
juga
telah
memberlakukan
larangan
penggunaan
kendaraan
roda
tiga
dan
menghentikan
pembangunan
di
beberapa
wilayah
untuk
mengurangi
tingkat
polusi.
Pabrik
dan
lokasi
konstruksi
yang
tidak
mematuhi
peraturan
ini
dapat
ditutup,
katanya.
Aurangzeb
menggambarkan
situasi
tersebut
sebagai “tidak
terduga”
dan
menghubungkan
memburuknya
kualitas
udara
dengan
angin
yang
membawa
polusi
dari
negara
tetangga
Pakistan,
yakni
India.
“Hal
ini
tidak
dapat
diselesaikan
tanpa
perundingan
dengan
India,”
katanya,
seraya
menambahkan
pemerintah
provinsi
akan
memulai
perundingan
dengan
negara
tetangganya
yang
lebih
besar
melalui
kementerian
luar
negeri
Pakistan.
Krisis
kabut
asap
di
Lahore,
mirip
dengan
situasi
yang
terjadi
di
ibu
kota
India,
New
Delhi,
yang
cenderung
memburuk
selama
bulan-bulan
yang
lebih
dingin
karena
inversi
suhu
yang
menjebak
polusi
lebih
dekat
ke
permukaan
tanah.
[rz/rs]