Bagi
seorang
ayah
dari
Gaza,
kematian
pemimpin
Hamas
Yahya
Sinwar
saat
mencoba
menghalau
drone
dengan
tongkat
dalam
pertempuran
dianggap
sebagai “kematian
seorang
pahlawan.”Sementara
bagi
yang
lain,
ini
menjadi
contoh
bagi
generasi
mendatang,
meskipun
beberapa
orang
menyesalkan
besarnya
biaya
perang
yang
ditimbulkan
akibat
konflik
dengan
Israel.

Sinwar,
yang
merancang
serangan
mematikan
Hamas
pada
7
Oktober
2023
yang
memicu
perang
di
Gaza,
tewas
dalam
baku
tembak
dengan
pasukan
Israel
pada
Rabu
(16/10),
dan
kematiannya
diumumkan
pada
Kamis
(17/10).
Selama
setahun
terakhir,
Israel
melakukan
pengejaran
terhadap
Sinwar.

Sebuah
video
menunjukkan
detik-detik
terakhir
kehidupan
Sinwar.
Ia
tampak
menggunakan
masker,
dan
terlihat
terluka
di
sebuah
apartemen
yang
hancur
akibat
tembakan.
Namun,
di
tengah
kondisi
tersebut
ia
tetap
berusaha
melemparkan
tongkat
ke
arah
drone
yang
merekamnya.
Hal
itu
memantik
rasa
bangga
di
kalangan
warga
Palestina.

Sebuah papan reklame yang menggambarkan pemimpin Hamas yang terbunuh, Yahya Sinwar, dengan slogan berbahasa Arab "jika Sinwar meninggalkan medan perang, Palestina akan melahirkan seribu Sinwar", 18 Oktober 2024. (Foto: AFP)

Sebuah
papan
reklame
yang
menggambarkan
pemimpin
Hamas
yang
terbunuh,
Yahya
Sinwar,
dengan
slogan
berbahasa
Arab “jika
Sinwar
meninggalkan
medan
perang,
Palestina
akan
melahirkan
seribu
Sinwar”,
18
Oktober
2024.
(Foto:
AFP)

“Ia
meninggal
sebagai
pahlawan,
menyerang,
bukan
melarikan
diri,
mencengkeram
senapannya,
dan
bertempur
melawan
tentara
pendudukan
di
garis
depan,”
kata
pernyataan
Hamas
yang
berduka
atas
kematian
Sinwar.

Dalam
pernyataan
itu,
Hamas
bertekad
bahwa
kematian
Sinwar
hanya
akan
memperkuat
gerakan
tersebut,
seraya
menambahkan
bahwa
Hamas
tidak
akan
berkompromi
dengan
syarat-syarat
untuk
mencapai
kesepakatan
gencatan
senjata
dengan
Israel.

“Ia
meninggal
dengan
mengenakan
rompi
militer,
bertempur
dengan
senapan
dan
granat,
dan
ketika
ia
terluka
dan
berdarah,
ia
tetap
bertempur
dengan
tongkat.
Beginilah
cara
para
pahlawan
meninggal,”
kata
Adel
Rajab,
60
tahun,
seorang
ayah
dua
anak
di
Gaza.

“Saya
telah
menonton
video
itu
30
kali
sejak
tadi
malam,
tidak
ada
cara
yang
lebih
baik
untuk
meninggal,”
kata
Ali,
seorang
pengemudi
taksi
berusia
30
tahun
di
Gaza.

“Saya
akan
menjadikan
video
ini
sebagai
tugas
harian
untuk
ditonton
demi
anak-anak
saya,
dan
cucu-cucu
saya
di
masa
mendatang,”
kata
ayah
dua
anak
itu.

Serangan
yang
direncanakan
Sinwar
terhadap
komunitas
Israel
setahun
lalu
mengakibatkan
sekitar
1.200
orang
tewas,
sebagian
besar
merupakan
warga
sipil,
sementara
253
orang
lainnya
diculik
dan
dibawa
ke
Gaza
sebagai
sandera,
menurut
catatan
dari
pihak
Israel.

Perang
Israel
berikutnya
telah
menghancurkan
Gaza,
menewaskan
lebih
dari
42.000
warga
Palestina,
dengan
10.000
korban
tewas
lainnya
yang
tidak
terhitung
jumlahnya
diperkirakan
terkubur
di
bawah
reruntuhan,
kata
otoritas
kesehatan
Gaza.

Dalam
pidato
terakhirnya,
Sinwar
menyatakan
bahwa
ia
lebih
memilih
mati
di
tangan
Israel
daripada
terkena
serangan
jantung
atau
kecelakaan
mobil.
Pernyataannya
itu
sering
dibagikan
oleh
warga
Palestina
lewat
platform
daring.

“Hadiah
terbaik
yang
dapat
diberikan
musuh,
dan
pendudukan
kepada
saya
adalah
membunuh
saya,
dan
saya
akan
menjadi
martir
di
tangan
mereka,”
katanya.

Pemimpin Hamas Yahya Sinwar menggendong anak seorang pejuang Brigade Al-Qassam, yang tewas dalam pertempuran baru-baru ini dengan Israel, dengan senapan Kalashnikov di tangannya selama unjuk rasa di Kota Gaza pada 24 Mei 2021. (Foto: AFP)

Pemimpin
Hamas
Yahya
Sinwar
menggendong
anak
seorang
pejuang
Brigade
Al-Qassam,
yang
tewas
dalam
pertempuran
baru-baru
ini
dengan
Israel,
dengan
senapan
Kalashnikov
di
tangannya
selama
unjuk
rasa
di
Kota
Gaza
pada
24
Mei
2021.
(Foto:
AFP)


Perekrutan

Saat
ini,
beberapa
warga
Palestina
bertanya-tanya
apakah
Israel
akan
menyesal
membiarkan
keinginan
itu
disiarkan
secara
publik,
yang
bisa
dijadikan
alat
perekrutan
bagi
organisasi
yang
berkomitmen
untuk
menghancurkannya.

“Mereka
bilang
dia
bersembunyi
di
terowongan,
dan
menjaga
sandera
Israel
di
dekatnya
untuk
menyelamatkan
hidupnya.
Kemarin,
kami
melihat
dia
memburu
tentara
Israel
di
Rafah,
tempat
pendudukan
sudah
beroperasi
sejak
Mei,”
kata
Rasha,
seorang
ibu
empat
anak
yang
kini
mengungsi.

“Begitulah
cara
para
pemimpin
bertindak,
dengan
senapan
di
tangan.
Saya
mendukung
Sinwar
sebagai
seorang
pemimpin
dan
hari
ini
saya
bangga
padanya
sebagai
seorang
martir,”
tambahnya.

Sebuah
jajak
pendapat
pada
September
menunjukkan
mayoritas
warga
Gaza
menganggap
serangan
7
Oktober
sebagai
keputusan
yang
salah.
Semakin
banyak
warga
Palestina
pada
saat
itu
yang
ragu
Sinwar
akan
melanjutkan
perang
yang
telah
membawa
penderitaan
besar
bagi
mereka.

Rajab,
yang
memuji
kematian
Sinwar
sebagai
tindakan
heroik,
mengatakan
dia
tidak
mendukung
serangan
7
Oktober,
karena
percaya
bahwa
warga
Palestina
tidak
siap
untuk
berperang
habis-habisan
dengan
Israel.
Namun
dia
mengatakan
cara
kematiannya “membuat
saya
bangga
sebagai
warga
Palestina”.

Baik
di
Gaza
maupun
di
Tepi
Barat,
orang-orang
mempertanyakan
apakah
kematian
Sinwar
akan
mempercepat
akhir
perang.
Kedua
tempat
tersebut
merupakan
tempat
Hamas
mendapatkan
dukungan
yang
signifikan.

Di
Hebron,
yang
menjadi
pusat
konflik
di
Tepi
Barat,
Ala’a
Hashalmoon
menyatakan
bahwa
kematian
Sinwar
tidak
akan
menghadirkan
pemimpin
yang
lebih
memilih
pendekatan
damai. “Kesimpulannya,
siapa
pun
yang
mati
akan
digantikan
oleh
seseorang
yang
lebih
keras
kepala,”
ujarnya.

Dan
di
Ramallah,
Murad
Omar,
54
tahun,
memperkirakan
tidak
banyak
yang
akan
berubah
di
lapangan. “Perang
akan
terus
berlanjut
dan
tampaknya
tidak
akan
segera
berakhir,”
tukasnya.

[ah/ft]

Source