Menjelang
KTT
yang
berlangsung
pada
tanggal
6-11
Oktober,
media
pemerintah
China
meningkatkan
upaya
untuk
mempromosikan
manfaat
positif
dari
peningkatan
Perjanjian
Kawasan
Perdagangan
Bebas
China-ASEAN
(CAFTA).
Chinadaily.com.cn
misalya
menulis
berita
utama
betapa
CAFTA
3.0
memperkuat
hubungan
ekonomi
China-ASEAN.


Analis
:
“CAFTA
3.0”
Masih
Harus
Dikaji

Namun
para
analis
mengatakan
kedua
belah
pihak
belum
mencapai
konsensus
mengenai
apa
yang
disebut
“CAFTA
3.0,”
dan
masih
harus
dikaji
apakah
pro
dan
kontra
kendaraan
listrik
dan
e-commerce
China
akan
menguntungkan
industri
Asia
Tenggara
yang
sedang
berjuang
untuk
berkompetisi
dengan
mitra-mitra
mereka
di
China.

Ming-Fang
Tsai,
seorang
profesor
di
Jurusan
Ekonomi
Industri
di
Universitas
Tamkang
Taiwan,
mengatakan
kepada
VOA,
“pembentukan
zona
demonstrasi
perdagangan
bebas
sebenarnya
tidak
lebih
dari
harapan
bahwa
barang-barang
tersebut
dapat
dijual
ke
China.”

Namun,
dia
mengatakan
pasar
China
menghadapi
permintaan
dalam
negeri
yang
semakin
berkurang
dan
kelebihan
produksi,
yang
menyebabkan
persaingan
harga.
“Jadi,
apakah
FTA
3.0
benar-benar
sebuah
upgrade
at
(peningkatan)?
Sebenarnya
itu
tanda
tanya
besar,”
ujarnya
melalui
email.


Dorongan
China
pada
Industri
Kendaraan
Listrik
Jadi
Sorotan

Beberapa
bidang
khusus
dalam
perjanjian
3.0
masih
menarik
perhatian
para
pakar,
termasuk
fokusnya
pada
industri
kendaraan
listrik.

He
Jiangbing,
seorang
ekonom
dan
komentator
keuangan
yang
berbasis
di
China,
mengatakan
kepada
VOA,
meskipun
ASEAN
juga
secara
aktif
mengembangkan
industri
kendaraan
listrik,
jika
produsen
kendaraan
listrik
utama
China
masuk
ke
Asia
Tenggara
melalui
perjanjian
yang
ditingkatkan
ini
(CAFTA
3.0)
maka
kemungkinan
besar
hal
ini
akan
berdampak
besar
pada
industri
otomotif
lokal.

“China
daratan
memulai
pengembangan
kendaraan
energi
baru
secara
relatif
awal
dan
telah
berkembang
pesat
selama
10
tahun
ini.
Namun
industri
otomotif
di
ASEAN
relatif
lemah.
Jika
kendaraan
energi
baru
milik
China
dijual
di
ASEAN,
akan
sulit
bagi
perusahaan
mobil
(tradisional)
negara-negara
Asia
Tenggara
untuk
bertahan,”
paparnya.
Walhasil
industri
otomotif
di
Asia
Tenggara
akan
sangat
terdampak
atau
hancur,
tambahnya.

Namun
Lu
Xi,
dosen
senior
di
Sekolah
Kebijakan
Publik
Lee
Kuan
Yew
di
Universitas
Nasional
Singapura,
mengatakan
kepada
VOA
bahwa
sebagian
besar
kendaraan
listrik
China
tidak
masuk
ke
Asia
Tenggara
melalui
ekspor
tetapi
melalui
transfer
lini
produksi,
mirip
dengan
usaha
patungan,
jadi
perang
harga
seharusnya
tidak
menimbulkan
dampak
negatif.
“Dengan
pengalihan
rantai
industri
manufaktur
mobil
listrik
China,
struktur
ekonomi
Asia
Tenggara
akan
mengalami
transformasi
besar,”
kata
Lu
melalui
email.

“Bergantung
pada
situasi
politik
dan
ekonomi
saat
ini
antara
China
dan
AS,
Asia
Tenggara
sendiri
juga
memiliki
pasar
lokal
yang
sangat
luas
dan
struktur
populasi
generasi
muda
yang
sangat
baik,
sehingga
secara
keseluruhan,
pasar
Asia
Tenggara
sedianya
menjadi
salah
satu
mesin
penting
dalam
pertumbuhan
ekonomi
di
seluruh
wilayah
ini
pada
masa
depan.”

Ming-Fang
Tsai,
profesor
di
Departemen
Ekonomi
Industri
di
Universitas
Tamkang
Taiwan
mencatat
bahwa
pabrikan
China
akan
mendirikan
pabrik
di
Asia
Tenggara
untuk
menghindari
label
“Made
in
China”
dan
untuk
menghindari
pembatasan
terhadap
produk
China. “Kontrol
atau
kendali
pada
teknologi
dapat
mempengaruhi
komponen
kendaraan
listrik
pada
masa
depan,
yang
memberikan
tekanan
besar
bagi
pabrikan
China,”
ujarnya.


eCommerce
China
Timbulkan
Dampak
Negatif
ke
Negara-Negara
Asia
Tenggara

Selain
kendaraan
listrik,
perjanjian
3.0
juga
fokus
pada
kota
pintar,
5G,
kecerdasan
buatan,
dan
e-commerce.
Namun
para
analis
mengatakan
e-commerce
China
telah
memberikan
dampak
negatif
terhadap
kawasan
ini
karena
pesanan
impor
dan
barang-barang
tiruan
China
yang
lebih
murah
membanjiri
Asia
Tenggara.

Surat
kabar
berpengaruh
South
China
Morning
Post
dan
Bangkok
Post
melaporkan
separuh
dari
pabrik
keramik
di
provinsi
Lampang,
di
bagian
utara
Thailand
telah
tutup;
sementara
pekerja
tekstil
Indonesia
menghadapi
PHK
massal.
“Saat
impor
murah
dari
China
membanjiri
Asia
Tenggara,
industri
berjuang
untuk
tetap
bertahan,”
tulis
South
China
Morning
Post
(scmp.com).
Sementara
Bangkok
Post
melaporkan
bagaimana
“industri
keramik
menghadapi
ancaman
dari
produk
tiruan
China.”

“Dalam
menghadapi
masuknya
e-commerce
China
secara
besar-besaran,
sejujurnya,
negara-negara
Asia
Tenggara
ini
relatif
tidak
kompetitif.
Karena
pertama,
mereka
tidak
akan
mampu
bersaing
dengan
China
dalam
hal
pemasaran
dan
pemnjualan.
Kedua,
produk
China
sendiri
memang
lebih
murah,”
tambah
Tsai
seraya
mengatakan
“Jika
keseluruhan
sistem
e-commerce
saya
lebih
baik
daripada
produk
Anda,
dan
produk
saya
tidak
lebih
mahal
dari
produk
Anda,
lalu
bagaimana
Anda
bisa
bersaing
dengan
saya?.”


Sekjen
ASEAN
Serukan
untuk
Manfaatkan
Semua
Kemitraan,
Termasuk
RCEP

Dalam
pidatonya
pada
bulan
September
untuk
Kemitraan
Ekonomi
Komprehensif
Regional,
atau
RCEP,
di
Nanning,
China,
Sekjen
ASEAN
Kao
Kim
Hourn
meminta
dunia
usaha
untuk
memanfaatkan
sepenuhnya
kemitraan
ini
saat
mereka
bergerak
menuju
peningkatan.
Dia
memuji
RCEP,
blok
perdagangan
terbesar
di
dunia,
yang
mencakup
hampir
30
persen
produk
domestik
bruto
global
senilai
$29
triliun
dan
mencakup
2,3
miliar
orang
di
Asia
Pasifik.

Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menghadiri sesi retret KTT ASEAN ke-45 di Pusat Konvensi Nasional di Vientiane, Laos, 9 Oktober 2024. (Athit Perawongmetha/REUTERS)

Sekretaris
Jenderal
ASEAN
Kao
Kim
Hourn
menghadiri
sesi
retret
KTT
ASEAN
ke-45
di
Pusat
Konvensi
Nasional
di
Vientiane,
Laos,
9
Oktober
2024.
(Athit
Perawongmetha/REUTERS)

“Hubungan
ekonomi
multi
arah
ASEAN
telah
menjadi
pendorong
utama
di
balik
penerapan
RCEP,”
kata
Hourn,
menurut
keterangan
tertulisnya.
“China,
misalnya,
tetap
menjadi
mitra
dagang
terbesar
ASEAN
selama
15
tahun
terakhir
dan
juga
telah
meningkat
dari
sumber
FDI
(penanaman
modal
asing/foreign
direct
investment
)
terbesar
ke-5
ke
ASEAN
pada
tahun
2022,
dan
menjadi
sumber
FDI
terbesar
ke-3
pada
tahun
2023.
Dengan
diterapkannya
RCEP
dan
ACFTA
3.0,
saya
yakin
yakin
perdagangan
dan
investasi
antara
ASEAN,
China,
dan
mitra
RCEP
lainnya
akan
terus
berkembang
demi
kepentingan
masyarakat
di
kawasan
yang
lebih
luas,”
sebutnya.

ASEAN
menyebut
perjanjian
perdagangan
bebas
itu
sebagai
ACFTA,
namun
Beijing
menyebutnya
sebagai
CAFTA.

CAFTA
didirikan
oleh
China
dan
ASEAN
pada
tahun
2009,
dan
KTT
ASEAN-China
mengumumkan
peluncuran
negosiasi
untuk
peningkatan
tersebut
pada
bulan
November
2022.

[em/lt]

Source