
LONDON
—
Serangan
Hamas
terhadap
Israel
pada
7
Oktober
tahun
lalu
yang
menewaskan
1.200
orang
memicu
kemarahan
sekutu-sekutu
negara
tersebut
di
Eropa
dan
mendatangkan
aliran
dukungan.
Perdana
menteri
Inggris
saat
itu,
Rishi
Sunak,
termasuk
yang
menyatakan
dukungan.
“Sekarang
bukan
waktunya
untuk
bersikap
ambigu
dan
sikap
saya
jelas.
Hamas
dan
orang-orang
yang
mendukung
Hamas
bertanggung
jawab
penuh
atas
aksi
teror
yang
mengerikan
ini,”
jelasnya.
Israel
membalasnya
dengan
gelombang
serangan
udara
terhadap
sasaran-sasaran
Hamas
dan
invasi
darat
ke
Gaza.
Pada
akhir
tahun
2023,
Kementerian
Kesehatan
yang
dikelola
Hamas
mengatakan
hampir
22
ribu
warga
Palestina
tewas.
Kekhawatiran
semakin
besar
atas
banyaknya
korban
warga
sipil.
Analis
Timur
Tengah
Andreas
Krieg
dari
King’s
College
London,
mengatakan,
“Pemerintah
negara-negara
Barat
merasa
sangat
sulit
untuk
menarik
kembali
dukungan
awal
yang
mereka
berikan
kepada
Israel.”
Ada
kekhawatiran
global
atas
kurangnya
bantuan
yang
mencapai
Gaza.
Afrika
Selatan
menuding
Israel
melakukan
genosida
terkait
aksinya
di
Gaza,
dan
membawa
tudingan
itu
ke
Mahkamah
Pidana
Internasional
di
Den
Haag.
Tindakan
Afrika
Selatan
itu
didukung
antara
lain
oleh
Spanyol,
Irlandia,
dan
Belgia.
Israel
bersikeras
bahwa
mereka
beroperasi
sesuai
dengan
hukum
internasional.
Negosiasi
untuk
mencapai
gencatan
senjata
sejauh
ini
gagal.
Krieg
kembali
mengatakan,
“Negara-negara
Eropa
tidak
memiliki
pengaruh
yang
dimiliki
AS
untuk
melakukan
apa
pun
terkait
hal
ini
selain,
tentu
saja,
kemungkinan
mengeluarkan
pernyataan
diplomatik
atau
mencoba
mensponsori
upaya
diplomatik.
Namun
jika
tidak
ada
paksaan
terhadap
pemerintahan
Netanyahu,
tidak
akan
ada
perubahan.”
Pada
bulan
Juli,
Inggris
membatalkan
rencana
untuk
mempersoalkan
surat
perintah
penangkapan
Mahkamah
Pidana
Internasional
terhadap
Perdana
Menteri
Israel
Benjamin
Netanyahu
karena
kejahatan
perang.
Pada
bulan
September,
Inggris
mengumumkan
penghentian
beberapa
penjualan
senjata
ke
Israel.
Bronwen
Maddox,
direktur
lembaga
pimikir
Chatham
House
yang
berbasis
di
London
mengatakan,
“Inggris
mengambil
lebih
banyak
langkah
untuk
menyatakan
ketidaksetujuannya
terhadap
aspek-aspek
yang
dilakukan
Israel
–
hal
ini
sangat
menyakitkan
bagi
Israel.
Tetapi,
saya
banyak
mendengar
–
saya
berada
di
sana
beberapa
hari
yang
lalu
–
orang-orang
berkata,
‘Jika
ini
adalah
pilihan
antara
keamanan
dan
dukungan
internasional,
kita
akan
memilih
keamanan.”
Jerman
adalah
pemasok
senjata
terbesar
kedua
bagi
Israel
setelah
Amerika
Serikat
–
namun
negara
tersebut
juga
telah
menghentikan
beberapa
ekspor.
Alasannya,
menurut
Krieg,
“Karena
tidak
mau
terseret
ke
jalur
hukum
yang
mungkin
terjadi.”
Setelah
menghadapi
serangan
rudal
dari
militan
Hizbullah
yang
didukung
Iran
di
Lebanon
dan
pemberontak
Houthi
di
Yaman,
Israel
telah
memperluas
operasi
militernya
dalam
beberapa
hari
terakhir.
Negara-negara
Eropa
sebelumnya
menawarkan
dukungan
tegas
kepada
Israel
setelah
peristiwa
7
Oktober.
Setelah
satu
tahun
konflik
yang
brutal
dan
meningkat
–
sebagian
besar
menuntut
diakhirinya
pertempuran
tersebut.
[ab/lt]