Perdana
Menteri
Taiwan
Cho
Jung-tai
pada
Senin
(16/9)
menegaskan
bahwa
pemerintah
akan
segera
mengevaluasi
kembali
insiden
di
mana
warga
negara
China
secara
ilegal
memasuki
pulau
yang
dikelola
secara
otonom
tersebut
dengan
menggunakan
perahu.
Ia
juga
berjanji
untuk
memperkuat
keamanan
negara
itu.
Komentar
Cho
Jung-tai
muncul
setelah
seorang
pria
China
ditemukan
di
perahu
karet
di
perairan
dekat
utara
Kota
Taipei
Baru
pada
Sabtu.
Insiden
serupa
juga
terjadi
pada
Juni.
“Kami
telah
mengevaluasi
beberapa
kasus
sebelumnya,
dan
insiden
ini
mungkin
mendorong
kami
untuk
mempercepat
tindakan,”
ujar
Cho
kepada
wartawan.
“Saya
memastikan
bahwa
menjaga
keamanan
nasional
adalah
tanggung
jawab
pemerintah
yang
tidak
bisa
dinegosiasikan.
Kami
harus
segera
meninjau
kembali
insiden-insiden
ini
dan
membuat
persiapan
yang
sesuai.”
Garda
pantai
mengungkapkan
bahwa
pada
Sabtu
dini
hari,
mereka
mendapat
informasi
dari
pemadam
kebakaran
New
Taipei
tentang
keberadaan
seorang
pria
yang
terlihat
dekat
muara
Sungai
Houkeng,
sekitar
100
meter
dari
pantai.
Personel
garda
pantai
menarik
warga
negara
China
itu
ke
darat
dan
melarikannya
ke
rumah
sakit
untuk
mendapatkan
perawatan
karena
mengalami
dehidrasi
parah.
Menurut
garda
pantai,
pria
tersebut,
yang
mengaku “memiliki
utang
di
China
dan
ingin
memulai
hidup
baru
di
Taiwan,”
kemudian
ditahan
setelah
berusaha
memasuki
pulau
itu
tanpa
izin.
China
mengklaim
Taiwan
yang
demokratis
sebagai
bagian
dari
wilayahnya.
Seiring
dengan
klaim
itu,
Beijing
dalam
beberapa
tahun
terakhir
terus
meningkatkan
tekanan
militer
serta
politik
terhadap
pulau
tersebut.
Bulan
lalu,
jaksa
penuntut
Taiwan
mendakwa
seorang
mantan
kapten
Angkatan
Laut
China
yang
ditangkap
karena
memasuki
Taiwan
secara
ilegal
dengan
perahu.
Namun,
mereka
menyatakan
bahwa
tindakan
tersebut “tidak
melibatkan
aspek
militer
atau
keamanan
nasional.”
Ia
ditangkap
oleh
garda
pantai
pada
Juni
setelah
kapalnya
bertabrakan
dengan
kapal
lain
di
Sungai
Tamsui,
yang
mengalir
dari
ibu
kota
Taipei
ke
pantai
utara
pulau
tersebut.
Otoritas
mengatakan
ia
adalah
salah
satu
dari
18
pembelot
dari
China
yang
terlihat
selama
sekitar
satu
tahun
terakhir.
Mereka
semua
mengaku
mengagumi “cara
hidup
demokratis”
Taiwan,
kata
pihak
berwenang.
Namun,
mereka
juga
memperingatkan
bahwa
insiden
tersebut
mungkin
merupakan
bagian
dari
upaya
China
untuk
menguji
seberapa
kuat
pertahanan
Taiwan.
[ah/rs]
