
Teheran,
Iran
—
Presiden
baru
Iran,
Masoud
Pezeshkian,
akan
mengunjungi
negara
tetangganya,
Irak,
pada
Rabu
(11/9)
untuk
mempererat
hubungan
yang
sudah
erat
pada
kunjungan
luar
negeri
pertamanya
sejak
menjabat.
Pezeshkian
telah
berjanji
akan
memprioritaskan
hubungan
dengan
negara-negara
tetangga
ketika
ia
berupaya
meringankan
isolasi
internasional
terhadap
Iran
dan
mengurangi
dampak
sanksi
Amerika
Serikat
(AS)
terhadap
perekonomian
Iran.
Kunjungannya
terjadi
setelah
negara-negara
Barat
pada
Selasa
(10/9)
mengumumkan
sanksi
baru
terhadap
Iran
karena
memasok
rudal
jarak
pendek
ke
Rusia
untuk
digunakan
melawan
Ukraina.
Kunjungan
Pezeshkia
juga
berlangsung
di
tengah
gejolak
di
Timur
Tengah
yang
dipicu
oleh
perang
di
Gaza.
Konflik
di
Gaza
yang
telah
menarik
kelompok-kelompok
bersenjata
yang
didukung
Iran
di
seluruh
wilayah
tersebut
dan
memperumit
hubungan
Baghdad
dengan
Washington.
Pada
Selasa
malam,
sebuah
ledakan
terdengar
di
pangkalan
koalisi
antimilitan
pimpinan
AS
di
bandara
internasional
Baghdad,
menurut
pejabat
keamanan
Irak.
Juru
bicara
untuk
Ketaeb
Hizbullah
(Brigade
Hizbullah)
yang
didukung
Iran
di
Irak
mengatakan
serangan
pada
Selasa
malam
itu
bertujuan
untuk “mengganggu
kunjungan
Presiden
Iran
ke
Bagdad.”
Hubungan
antara
Iran
dan
Irak,
keduanya
negara
dengan
mayoritas
penduduk
adalah
pemeluk
Syiah,
semakin
erat
sejak
invasi
pimpinan
AS
pada
2003
menggulingkan
rezim
diktator
Irak
Saddam
Hussein
yang
didominasi
Sunni.
Pezeshkian
secara
langsung
menghubungkan
penguatan
hubungan
dengan
tekanan
sanksi.
“Hubungan
dengan
negara-negara
tetangga…
dapat
menetralisasi
sejumlah
besar
tekanan
sanksi,”
katanya
bulan
lalu.
Iran
telah
menderita
selama
bertahun-tahun
akibat
sanksi
Barat
yang
melumpuhkan.
Apalagi,
setelah
musuh
bebuyutannya,
Amerika
Serikat,
di
bawah
kepemimpinan
presiden
saat
itu
Donald
Trump,
secara
sepihak
meninggalkan
perjanjian
nuklir
penting
antara
Iran
dan
negara-negara
besar
pada
2018.
Pezeshkian,
yang
menjabat
sebagai
presiden
pada
akhir
Juli,
telah
mengangkat
Mohammad
Javad
Zarif,
diplomat
tertinggi
yang
menegosiasikan
kesepakatan
2015,
sebagai
wakil
presiden
urusan
strategis
sebagai
bagian
dari
upayanya
untuk
Iran
lebih
terbuka.
[ft/rs]