Ketika
Taiwan
bersiap
memulai
latihan
militer
Han
Kuang
pada
minggu
ini,
sistem
pertahanan
udaranya
mendeteksi
pesawat
tak
berawak
milik
China
yang
mengelilingi
pulau
itu.
Itu
merupakan
keenam
kalinya
China
mengirim
sebuah

drone

untuk
beroperasi
di
sekitar
Taiwan
sejak
tahun
2023.

Drone
seperti
yang
terbang
di
sekitar
Taiwan,
bertugas
melakukan
dua
misi
yaitu
pengintaian
dan
intimidasi,
dan
aksi
tersebut
hanyalah
sebagian
kecil
dari
tren
yang
lebih
luas
yang
menjadi
berita
utama,
dari
Ukraina
hingga
Timur
Tengah
dan
Selat
Taiwan.
Sebuah
tren
yang
mengubah
peperangan.

Meningkatnya
peran
pesawat
nirawak
atau
UAV,
menambah
kekhawatiran
mengenai
invasi
China
ke
Taiwan,
yang
memiliki
pemerintahan
sendiri,
sehingga
mendorong
AS,
China,
dan
Taiwan
untuk
meningkatkan
kecanggihan,
kemampuan
beradaptasi
dan
biaya
pengembangan
teknologi

drone
.


Strategi
neraka

Pentagon
meluncurkan
Inisiatif
Replikator
senilai
$1
miliar
pada
Agustus
lalu,
untuk
menciptakan
“ribuan”

drone

udara,
laut,
dan
darat,
menurut
Unit
Inovasi
dalam
Departemen
Pertahanan
AS.
Pentagon
bermaksud
membangun
kekuatan

drone

itu
pada
Agustus
2025.

Inisiatif
tersebut
adalah
bagian
dari
apa
yang
baru-baru
ini
digambarkan
oleh
Laksamana
AS
Samuel
Paparo
kepada
harian

The
Washington
Post

sebagai
strategi “Hellscape”
atau
“pemandangan
neraka.”
Strategi
tersebut
bertujuan
untuk
melawan
invasi
China
ke
Taiwan,
melalui
peluncuran
ribuan

drone

nirawak
ke
wilayah
udara
dan
laut
antara
pulau
itu
dan
China.

“Manfaat
sistem
nirawak
adalah
Anda
mendapatkan
peralatan
dalam
jumlah
besar
dengan
harga
yang
murah
dan
sekali
pakai
dengan
biaya
rendah.
Jika
sebuah

drone

ditembak
jatuh,
satu-satunya
orang
yang
menangisinya
adalah
para
akuntan,”
kata
Zachary
Kallenborn,
peneliti
kebijakan
di
George
Mason
University.
“Kita
dapat
menggunakannya
dalam
skala
besar
dan
membuat
lawan
kita
kewalahan,
serta
menurunkan
kemampuan
pertahanan
mereka.”

Hellscape,
tambahnya,
bertujuan
menggunakan

drone

murah
dengan
jumlah
besar
dengan
maksud
berusaha
menahan
China
agar
tidak
menyerang
Taiwan.


Supremasi
pembuatan
drone

China
sendiri
memiliki
rencana
yang
tengah
dijalankan.
Negara
tersebut
merupakan
produsen

drone

komersial
terbesar
di
dunia.
Dalam
sebuah
pengarahan
menyusul
pernyataan
Paparo
kepada

the
Post
,
Beijing
memperingatkan
Washington
bahwa
mereka
tengah
melakukan
perbuatan
yang
berisiko.

“Mereka
yang
berteriak
untuk
mengubah
negara
lain
menjadi
neraka
haruslah
menjadi
pihak
bersiap
untuk
terbakar
di
neraka,”
ujar
Kolonel
Senior
Wu
Qian,
juru
bicara
Kementerian
Pertahanan
China.

“Tentara
Pembebasan
Rakyat
[China]
mampu
melawan
dan
memenangkan
dengan
menggagalkan
intervensi
eksternal
dan
menjaga
kedaulatan
nasional
dan
integritas
wilayah
kami.
Kami
tidak
mempan
dengan
ancaman
dan
intimidasi,”
tambah
Wu.

Upaya
China
untuk
mengembangkan
penggunaan

drone

telah
diperkuat
oleh
komitmen
Xi
Jinping
pada
pengembangan
teknologi
dan
modernisasi
di
sektor
militer,
ungkap
para
analis.

“Militer
China
tengah
mengembangkan
lebih
dari
50
jenis

drone

dengan
kapabilitas
yang
bervariasi,
mengumpulkan
puluhan
ribu
armada
yang
kemungkinan
10
kali
lebih
besar
dari
kombinasi
armada
AS
dan
Taiwan,”
kata
Michael
Raska,
asisten
profesor
di
Nanyang
Technological
University
di
singapura,
kepada
VOA
melalui
email.
“Kelebihan
dari
segi
kuantitas
ini
mendorong
percepatan
modernisasi
militer
China,
dengan
menempatkan

drone

di
masa
depan
untuk
melakukan
berbagai
macam
tugas
mulai
dari
mengumpulkan
informasi
intelijen
sebelum
konflik
hingga
melakukan
penyerangan.”

[ps/jm/rs]

Source