NATO,
pada
Kamis
(11/7),
siap
memperkuat
hubungan
dengan
mitra-mitra
utama
di
Indo-Pasifik,
dengan
bertemu
para
pemimpin
dari
Australia,
Jepang,
Selandia
Baru
dan
Korea
Selatan
sehari
setelah
seluruh
32
sekutu
NATO
mengkritik
China
atas
dukungannya
terhadap
perang
ilegal
Rusia
melawan
Ukraina
dalam
sebuah
komunike
dengan
kata-kata
tajam.

Dalam
sesi
pada
hari
Kamis,
NATO
dan
mitra-mitra
Indo-Pasifiknya
memperkuat
rencana
dan
mengembangkan
strategi
untuk
menghadapi
ancaman
yang
kian
besar
di
kawasan
Pasifik,
termasuk
di
antaranya
peluncuran
rudal
Korea
Utara
dan
aliran
terus
menerus
teknologi
serta
bahan
baku
dari
China
untuk
Rusia,
yang
telah
memungkinkan
Presiden
Vladimir
Putin
membalikkan
kekalahannya
di
medan
tempur.

Para
pejabat
AS
mengatakan
kehadiran
mitra-mitra
Indo-Pasifik
memberi
pesan
kepada
China
bahwa
aliansi
demokrasi
akan
membela
supremasi
hukum,
tak
peduli
di
mana
agresor
akan
berusaha
melanggarnya.

“NATO
juga
mengakui
bahwa
ancaman
dari
Indo-Pasifik,
baik
itu
DPRK
(Korea
Utara)
atau
PRC
(China)
yang
mendukung
Rusia
dalam
agresi
mereka
terhadap
Ukraina,
kami
tidak
dapat
menghindarinya,”
kata
Direktur
Senior
Dewan
Keamanan
Nasional
untuk
Kebijakan
Pertahanan
Jason
Israel
kepada
VOA.

Dalam
komunike
akhir
yang
ditandatangani
oleh
seluruh
32
sekutu,
NATO
menyebut
China
sebagai
“pendukung
kuat”
perang
Rusia
dan
mendesak
Beijing
agar
menghentikan
dukungannya.

“PRC
tidak
dapat
membiarkan
perang
[di
Ukraina],
yang
merupakan
perang
terbesar
dalam
sejarah
modern
di
Eropa,
ini
tanpa
dampak
negatif
terhadap
kepentingan
dan
reputasinya,”
tulis
para
pemimpin.

Mereka
juga
menyatakan
keprihatinan
atas
kemampuan
ruang
angkasa
serta
arsenal
nuklir
Beijing.

Sekjen
NATO
Jens
Stoltenberg
pada
hari
Rabu
memberitahu
para
wartawan
bahwa
“China
menopang
ekonomi
perang
Rusia”
dan
“meningkatkan
ancaman
Rusia
terhadap
Eropa
dan
keamanan
NATO.”

“China
memberi
peralatan
dengan
penggunaan
ganda,
mikroelektronik,
dan
banyak
peralatan
lain
yang
memungkinkan
Rusia
membuat
rudal,
untuk
membuat
bom,
dan
untuk
membuat
pesawat
udara,
untuk
membangun
senjata
yang
mereka
gunakan
untuk
menyerang
Ukraina,”
tambahnya.

Ketika
ditanya
VOA
apakah
pernyataan
itu
merupakan
pesan
yang
cukup
kuat
untuk
mencegah
China
melanjutkan
dukungan
bagi
Rusia,
Stoltenberg
menjawab
dalam
konferensi
pers
bahwa
deklarasi
pada
hari
Rabu
(10/7)
itu
merupakan
“pesan
terkuat
yang
pernah
dikirim
sekutu-sekutu
NATO
mengenai
kontribusi
China
bagi
perang
ilegal
Rusia
melawan
Ukraina.”

Beberapa
sekutu
pada
hari
Kamis
memperingatkan
sekutu
agar
tidak
menggunakan
komunike
itu
sebagai
batu
loncatan
untuk
membuat
NATO
tampak
“anti-China.”

“NATO
adalah
aliansi
pertahanan
….
Kita
tidak
dapat
mengorganisirnya
menjadi
blok
anti-China,”
kata
Menteri
Luar
Negeri
Hongaria
Peter
Szijjarto
kepada
televisi
pemerintah
Hungaria
di
sela-sela
KTT.

[uh/jm]

Source