Sejumlah
ilmuwan
di
Namibia
menemukan
fosil
sebuah
binatang
raksasa
yang
mirip
dengan
salamander
bertaring
tajam
yang
menguasai
perairan
sebelum
adanya
dinosaurus.
Mereka
menilai
predator
yang
berukuran
lebih
besar
dari
manusia
itu
kemungkinan
menggunakan
kepala
dan
gigi
depannya
yang
lebar
dan
rata
untuk
menyedot
dan
mengunyah
mangsanya
tanpa
tersadar.
Tengkoraknya
memiliki
panjang
sekitar
60
sentimeter.
“Makhluk
ini
bagai
sebuah
stapler
yang
agresif,”
kata
Michael
Coates,
seorang
ahli
biologi
di
University
of
Chicago
yang
tidak
terlibat
dalam
penemuan
ini.
Peninggalan
fosil
dari
empat
makhluk
yang
terkumpul
sekitar
satu
dekade
lalu
kini
sedang
dianalisa,
termasuk
tengkorak
parsial
dan
bagian
tulang
punggung.
Temuan
mengenai
Gaiasia
Jennyae
dipublikasikan
pada
hari
Rabu
(3/7)
di
jurnal
Nature.
Makhluk
tersebut
diperkirakan
hidup
sekitar
40
juta
tahun
sebelum
dinosaurus
berevolusi.
Para
peneliti
telah
sejak
lama
mempelajari
predator
purba
itu
untuk
mengungkap
asal-usul
tetrapoda:
hewan
berkaki
empat
yang
merayap
di
daratan
dengan
jari-jari,
bukan
sirip,
dan
berevolusi
menjadi
amfibi,
burung,
dan
mamalia,
termasuk
manusia.
Sebagian
besar
fosil
tetrapoda
awal
ditemukan
di
rawa-rawa
batu
bara
prasejarah
yang
panas
di
sepanjang
garis
khatulistiwa,
di
daerah
yang
sekarang
dikenal
sebagai
Amerika
Utara
dan
Eropa.
Namun,
sisa-sisa
terbaru,
yang
berasal
dari
sekitar
280
juta
tahun
yang
lalu,
ditemukan
di
Namibia,
sebuah
wilayah
di
Afrika
yang
dulunya
dipenuhi
gletser
dan
es.
Hal
ini
diartikan
bahwa
tetrapoda
mungkin
telah
berkembang
di
iklim
yang
lebih
dingin,
lebih
awal
dari
yang
diperkirakan
para
ilmuwan,
sehingga
memunculkan
lebih
banyak
pertanyaan
tentang
bagaimana
dan
kapan
mereka
mengambil
alih
Bumi.
“Kisah
awal
tetrapoda
pertama
jauh
lebih
kompleks
daripada
yang
kami
duga,”
kata
Claudia
Marsicano,
salah
satu
penulis
di
University
of
Buenos
Aires
yang
menjadi
bagian
dari
penelitian
ini.
Nama
makhluk
ini
diambil
dari
formasi
batuan
Gai-As
di
Namibia,
tempat
fosil
tersebut
ditemukan,
dan
sekaligus
untuk
mengenang
mendiang
ahli
paleontologi
Jennifer
Clack,
yang
mempelajari
bagaimana
tetrapoda
berevolusi.
[th/em]

